Pada postingan kali ini, saya akan menguraikan
perjalanan seorang mahasiswa ilmu perpustakaan yang meskipun belum lulus, namun
sudah banyak pengalaman. Kakak ini bernama Ridwan Nur Arifin. Lahir di
Karawang, 9 Agustus 1992. Kak Ridwan memempuh pendidikan dari MI, SMP, dan SMA
di Rengasdengklok. Setelah lulus, kak Ridwan mengaku tidak ada niatan untuk
melanjutkan ke bangku kuliah, karena diantara saudara-saudaranya juga tidak ada
yang melanjutkan kuliah. Namun kemudian kak Ridwan mendapat dukungan untuk
kuliah dan disarankan kuliah di Yogyakarta.
Mahasiswa semester 6 jurusan Ilmu
Perpustakaan dan Informasi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini awalnya mengaku galau karena setelah lulus SMA merasa
tidak mempunyai pegangan. Guru bimbingan Konseling atau biasa disebut BK dirasa
kurang memberikan pengarahan.
Akhirnya melaui jalur PMDK, kak
Ridwan mendaftar jurusan TI – yang memang merupakan hobinya – di salah satu
perguruan tinggi negeri di Yogyakarta bersama 15 orang temannya namun sayang,
yang diterima hanya 2 orang, yaitu jurusan Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia.
Kemudian kak Ridwan daftar melalui jalur SNMPTN, memilih TI di salah satu
perguruan tinggi negeri di Yogyakarta, Bahasa Inggris di salah satu perguruan
tinggi negeri di Yogyakarta jug, dan PAI di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kata
kak Ridwan malah “Alhamdulillah
ketiga-tiganya ga’ diterima”. Kenapa
Alhamdulillah..?
baca terus kisahnya. . .
baca terus kisahnya. . .
Selama menunggu pengumuman, kak
Ridwan punya firasat jelek, terus daripada
nganggur, kak Ridwan nyoba daftar jalur regular di UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta. Milih 3 jurusan, yang pertama TI, kedua PAI, dan yang terakhir
Teknik Industri. Kemudian ada bapak-bapak yang menyarankan kalau memilih
jurusan yang pertama gradenya tinggi, baru kemudian yang kedua dan ketika cukup
rendah. Soalnya kalau semua gradenya tinggi semua begitu, ga’ keterima satu ga’ keterima
semua. Akhirnya setelah berpikir beberapa menit, kak Ridwan mengubah pilihan
kedua menjadi Ilmu Perpustakaan dan Informasi dan yang ketiga menjadi Sastra
Inggris yang merupakan jurusan baru.
Kak Ridwan mengetahui Ilmu
Perpustakaan karena dulu pernah main ke ruang BK, kemudian melihat brosur dari
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kak Ridwan melihat pembelajarannya, ada Linux
dan design web. Pas diruntutin kok masuknya Ilmu Perpustakaan dan
Informasi. Kak Ridwan sempat bingung.
Nah.
. .pengumuman SNMPTN sudah keluar, kak Ridwan ke
warnet untuk mengecek, tapi ternyata tidak lolos. Kemudian pada suatu subuh,
sekitar jam 5 kurang, ada sms yang memberitahukan bahwa kak Ridwan diterima
menjadi mahasiswa di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fakultas Adab dan Ilmu
Budaya, jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Kak Ridwan sempat galau dan sempat berpikir untuk tidak
mengambilnya, terus belajar Bahasa
Inggris di Pare selama 1 tahun, baru kemudian tahun depan daftar kuliah lagi..
Kegalauan kak Ridwan ternyata dilihat
oleh ibunya yang kemudian mendatanginya dan terjadadi percakapan sebagai
berikut :
Ibu : “kenapa sih kamu, kok merenung gitu?”
Kak Ridwan : “ga keterima mah.”
Ibu : “ga keterima gimana maksudnya?”
Kak Ridwan : “keterimanya
di Ilmu Perpustakaan.”
Ibu :
“memangnya kenapa di Ilmu
Perpustakaan?”
Kak Ridwan : “ya entar mau jadi apa? Kuliahnya juga
tentang apa?”
Ibu : “lha emang kamu pertamanya milih apa?”
Kak Ridwan : “aku milih
TI, tapi TI aku engga masuk.”
Ibu : “lha terus gimana, mau diambil apa engga?”
Kak Ridwan : “ga tau.”
Ibu : “jangan kamu menyepelekan
suatu ilmu. Walaupun ilmu perpustakaan itu bisa dikatakan belum terkenal
ataupun kecil, tetapi untuk bisa menjadi besar kamu harus menjadi kecil
terlebih dahulu.”
Akhirnya kak Ridwan pun
termotivasi, meski di awal-awal kuliah masih ga pede dengan jurusannya. Ketika ditanya teman-temannya “kuliah
dimana?” kak Ridwan juga menjawab “informasi”. Sedangkan teman-teman kak Ridwan
banyak yang kuliah kedokteran, pendidikan, kebidanan, dan jurusan umum yang
populer lainnya.
Pada semester 2 kuliah, kak
Ridwan mulai mendapat kekuatan dan memantapkan dirinya disemester 3. Setelah
itu kak Ridwan mulai berorganisasi, keluar kampus untuk mengabdikan ke
masyarakat melalui TBM, mulai menikmati, dan bersyukur sekali di Ilmu
Perpustakaan bisa bertemu tokoh-tokoh luar biasa.
Tahun 2012 kak Ridwan masuk Tim
Pengembangan Otomasi Perpustakaan yang diminta oleh Kementrian Agama yang
bekerjasama dengan Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Bergabung dengan
tim itu, kak Ridwan bisa kemana-mana dengan biaya gratis, ke Malang, yang
terakhir ke Sulawesi Selatan. Ini adalah proyek KemenAg untuk mengembangakan
madrasah-madrasah untuk 5 provinsi. Salah satu bidangnya adalah perpustakaan.
Kak Ridwan bersama timnya dipilih oleh UIN untuk menggarap proyek ini. Tugasnya yaitu mengubah perpustakaan yang
tadinya manual menjadi terotomasi, memberikan pelatihan terhadap pustakawannya,
membuat web perpustakaan, OPAC, dsb, selama 4 hari.
Sebelum ke Sulawesi Selatan kak
Ridwan sempat kehilangan laptop, sepulang dari sana Alhamdulillah kak Ridwan
bisa membeli laptop baru (dapat beasiswa juga), pindah ke kos yang lebih bagus,
beli printer, bahkan membuatkan warung nasi untuk ibunya dirumah.
Sepulnagnya dari Sulawesi juga,
kak Ridwan kemudian mendapatkan berbagai proyek sejenis, seperti mengolah
perpus di daerah Yogyakarta, Perpustakaan Perguruan Tinggi Swasta di
Yogyakarta, mengisi pelatihan penulisan dan pembuatan blog di salah satu
sekolah tinggi di Yogyakarta, sering mengisi pelatihan-pelatihan perpustakaan
meski masih wilayah regional, bahkan diminta oleh seorang tokoh di Yogyakarta
untuk mengolah perpustakaan pribadinya. Selain itu, diajak kerjasama untuk
pengembangan perpustakaan di kafe. Saat ini kak Ridwan juga dikontrak menjadi
fasilitator pengembangan perpustakaan di salah satu perguruan tinggi swasta di
Yogyakarta. Kata kak Ridwan, semua proyek itu sangat membantu dan menjadikannya
lebih mandiri, baik dari segi finansial maupun keilmuan. Dan semua itu karena
ILMU PERPUSTAKAAN.
Perpustakaan itu keilmuanyya
terus berkembang, tidak akan mati. Seperti yang dikatakan Rangganatan “Library
is growing organism”. Nah. . .buat
mahasiswa yang masih galau dengan
jurusan Ilmu Perpustakaan, kak Ridwan punya saran :
1.
Geluti bidan perpustakaan yang
paling disukai
2.
Membanggakan diri karena
merupakan ahli informasi. Apa yang sudah didapat dari Ilmu Perpustakaan itu(?).
Kak Ridwan sendiri sudah membuktikan seperempatnya.
3.
Banyak membaca peluang,
pengembangann keilmuanyya sperti apa(?) mau menjadi teknisi atau akademisi(?)
kalau teknisi, hal-hal yang bersifat teknis harus benar-benar dikuasai, jadi
setelah lulus minimal bisa jadi konsultan perpustakaan. Sedangkaan kalau
akademisi harus memperdalam keilmuannya. – Kak Ridwan sendiri bercita-cita
menjadi dosen dan berniat melanjutkan kuliahnya ke jenjang yan glebih tinggi. –
Harapan
kak Ridwan untuk Ilmu Perpustakaan, semoga lebih fleksibel dan professional.
Mengingat sekarang bukan lagi time is money tapi time is information, dimana
kita bisa mendapatkan uang dengan informasi tersebut. sedangkan untuk
perpustakaan sendiri juga harus fleksibel dan dikelola oleh orang-orang yang
memang ahli. Pemerintah juga lebih memperhatikan perpustakaan.
Semoga kisah ini bisa memotivasi
mahasiswa ilmu perpustakaan lainnya bahkan orang-orang awam sekalipun. Salam
pustakawan!
Retno Palupi W..

keren pal.
BalasHapussemoga menginspirasi..
Hapus:)