Jumat, 19 April 2013

Calon Pustakawan Mandiri



    Pada postingan kali ini, saya akan menguraikan perjalanan seorang mahasiswa ilmu perpustakaan yang meskipun belum lulus, namun sudah banyak pengalaman. Kakak ini bernama Ridwan Nur Arifin. Lahir di Karawang, 9 Agustus 1992. Kak Ridwan memempuh pendidikan dari MI, SMP, dan SMA di Rengasdengklok. Setelah lulus, kak Ridwan mengaku tidak ada niatan untuk melanjutkan ke bangku kuliah, karena diantara saudara-saudaranya juga tidak ada yang melanjutkan kuliah. Namun kemudian kak Ridwan mendapat dukungan untuk kuliah dan disarankan kuliah di Yogyakarta.
Mahasiswa semester 6 jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini awalnya mengaku galau karena setelah lulus SMA merasa tidak mempunyai pegangan. Guru bimbingan Konseling atau biasa disebut BK dirasa kurang memberikan pengarahan.
Akhirnya melaui jalur PMDK, kak Ridwan mendaftar jurusan TI – yang memang merupakan hobinya – di salah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta bersama 15 orang temannya namun sayang, yang diterima hanya 2 orang, yaitu jurusan Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Kemudian kak Ridwan daftar melalui jalur SNMPTN, memilih TI di salah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta, Bahasa Inggris di salah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta jug, dan PAI di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kata kak Ridwan malah “Alhamdulillah ketiga-tiganya ga’ diterima”. Kenapa Alhamdulillah..?
baca terus kisahnya. . .
Selama menunggu pengumuman, kak Ridwan punya firasat jelek, terus daripada nganggur, kak Ridwan nyoba daftar jalur regular di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Milih 3 jurusan, yang pertama TI, kedua PAI, dan yang terakhir Teknik Industri. Kemudian ada bapak-bapak yang menyarankan kalau memilih jurusan yang pertama gradenya tinggi, baru kemudian yang kedua dan ketika cukup rendah. Soalnya kalau semua gradenya tinggi semua begitu, ga’ keterima satu ga’ keterima semua. Akhirnya setelah berpikir beberapa menit, kak Ridwan mengubah pilihan kedua menjadi Ilmu Perpustakaan dan Informasi dan yang ketiga menjadi Sastra Inggris yang merupakan jurusan baru.
Kak Ridwan mengetahui Ilmu Perpustakaan karena dulu pernah main ke ruang BK, kemudian melihat brosur dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kak Ridwan melihat pembelajarannya, ada Linux dan design web. Pas diruntutin kok masuknya Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Kak Ridwan sempat bingung.
Nah. . .pengumuman SNMPTN sudah keluar, kak Ridwan ke warnet untuk mengecek, tapi ternyata tidak lolos. Kemudian pada suatu subuh, sekitar jam 5 kurang, ada sms yang memberitahukan bahwa kak Ridwan diterima menjadi mahasiswa di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Kak Ridwan sempat galau dan sempat berpikir untuk tidak mengambilnya, terus belajar Bahasa Inggris di Pare selama 1 tahun, baru kemudian tahun depan daftar kuliah lagi.. Kegalauan kak Ridwan ternyata dilihat oleh ibunya yang kemudian mendatanginya dan terjadadi percakapan sebagai berikut :
Ibu                  : “kenapa sih kamu, kok merenung gitu?”
Kak Ridwan    : “ga keterima mah.”
Ibu                  : “ga keterima gimana maksudnya?”
Kak Ridwan    : “keterimanya di Ilmu Perpustakaan.”
Ibu                  : “memangnya kenapa di Ilmu Perpustakaan?”
Kak Ridwan    : “ya entar mau jadi apa? Kuliahnya juga tentang apa?”
Ibu                  : “lha emang kamu pertamanya milih apa?”
Kak Ridwan    : “aku milih TI, tapi TI aku engga masuk.”
Ibu                  : “lha terus gimana, mau diambil apa engga?”
Kak Ridwan    : “ga tau.”
Ibu                  : “jangan kamu menyepelekan suatu ilmu. Walaupun ilmu perpustakaan itu bisa dikatakan belum terkenal ataupun kecil, tetapi untuk bisa menjadi besar kamu harus menjadi kecil terlebih dahulu.”

Akhirnya kak Ridwan pun termotivasi, meski di awal-awal kuliah masih ga pede dengan jurusannya. Ketika ditanya teman-temannya “kuliah dimana?” kak Ridwan juga menjawab “informasi”. Sedangkan teman-teman kak Ridwan banyak yang kuliah kedokteran, pendidikan, kebidanan, dan jurusan umum yang populer lainnya.
Pada semester 2 kuliah, kak Ridwan mulai mendapat kekuatan dan memantapkan dirinya disemester 3. Setelah itu kak Ridwan mulai berorganisasi, keluar kampus untuk mengabdikan ke masyarakat melalui TBM, mulai menikmati, dan bersyukur sekali di Ilmu Perpustakaan bisa bertemu tokoh-tokoh luar biasa.
Tahun 2012 kak Ridwan masuk Tim Pengembangan Otomasi Perpustakaan yang diminta oleh Kementrian Agama yang bekerjasama dengan Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Bergabung dengan tim itu, kak Ridwan bisa kemana-mana dengan biaya gratis, ke Malang, yang terakhir ke Sulawesi Selatan. Ini adalah proyek KemenAg untuk mengembangakan madrasah-madrasah untuk 5 provinsi. Salah satu bidangnya adalah perpustakaan. Kak Ridwan bersama timnya dipilih oleh UIN untuk menggarap proyek ini. Tugasnya yaitu mengubah perpustakaan yang tadinya manual menjadi terotomasi, memberikan pelatihan terhadap pustakawannya, membuat web perpustakaan, OPAC, dsb, selama 4 hari.
Sebelum ke Sulawesi Selatan kak Ridwan sempat kehilangan laptop, sepulang dari sana Alhamdulillah kak Ridwan bisa membeli laptop baru (dapat beasiswa juga), pindah ke kos yang lebih bagus, beli printer, bahkan membuatkan warung nasi untuk ibunya dirumah.
Sepulnagnya dari Sulawesi juga, kak Ridwan kemudian mendapatkan berbagai proyek sejenis, seperti mengolah perpus di daerah Yogyakarta, Perpustakaan Perguruan Tinggi Swasta di Yogyakarta, mengisi pelatihan penulisan dan pembuatan blog di salah satu sekolah tinggi di Yogyakarta, sering mengisi pelatihan-pelatihan perpustakaan meski masih wilayah regional, bahkan diminta oleh seorang tokoh di Yogyakarta untuk mengolah perpustakaan pribadinya. Selain itu, diajak kerjasama untuk pengembangan perpustakaan di kafe. Saat ini kak Ridwan juga dikontrak menjadi fasilitator pengembangan perpustakaan di salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta. Kata kak Ridwan, semua proyek itu sangat membantu dan menjadikannya lebih mandiri, baik dari segi finansial maupun keilmuan. Dan semua itu karena ILMU PERPUSTAKAAN.
Perpustakaan itu keilmuanyya terus berkembang, tidak akan mati. Seperti yang dikatakan Rangganatan “Library is growing organism”. Nah. . .buat mahasiswa yang masih galau dengan jurusan Ilmu Perpustakaan, kak Ridwan punya saran :
1.      Geluti bidan perpustakaan yang paling disukai
2.      Membanggakan diri karena merupakan ahli informasi. Apa yang sudah didapat dari Ilmu Perpustakaan itu(?). Kak Ridwan sendiri sudah membuktikan seperempatnya.
3.      Banyak membaca peluang, pengembangann keilmuanyya sperti apa(?) mau menjadi teknisi atau akademisi(?) kalau teknisi, hal-hal yang bersifat teknis harus benar-benar dikuasai, jadi setelah lulus minimal bisa jadi konsultan perpustakaan. Sedangkaan kalau akademisi harus memperdalam keilmuannya. – Kak Ridwan sendiri bercita-cita menjadi dosen dan berniat melanjutkan kuliahnya ke jenjang yan glebih tinggi. –

Harapan kak Ridwan untuk Ilmu Perpustakaan, semoga lebih fleksibel dan professional. Mengingat sekarang bukan lagi time is money tapi time is information, dimana kita bisa mendapatkan uang dengan informasi tersebut. sedangkan untuk perpustakaan sendiri juga harus fleksibel dan dikelola oleh orang-orang yang memang ahli. Pemerintah juga lebih memperhatikan perpustakaan.
Semoga kisah ini bisa memotivasi mahasiswa ilmu perpustakaan lainnya bahkan orang-orang awam sekalipun. Salam pustakawan!

Retno Palupi W..

2 komentar: